Atarashi kotoba "OOSAME KUDASAI"

Gambar
  Kali ini, saya mau membahas satu kata dalam bahasa Jepang yaitu  お納めください. Jadi ceritanya hari ini saya nonton anime baru yang diadaptasi dari Manga yang berjudul "Tondemonai Skill de isekai houroumeshi".  Cerita di versi manganya menurut saya bagus. Gaya menggambar karakternya juga sedikit berbeda dari manga yang lain. Sejauh ini anime nya mirip dengan yang di Manga. Di episode kedua ini, ada satu kata yang menarik perhatian saya. Kata ini ada di adegan saat Ketua Merchant Guild hendak membayar Garam dan Lada milik Mukouda san. お納めください 。Lalu terlihat adegan resepsionis menyerahkan uang.   Arti dari Oosame kudasai ternyata "silahkan diterima (uangnya)". Secara arti kata, osameru 納める berarti : menerima uang, barang, dll, dan menjadikannya milik sendiri. お納めください (oosame kudasai) sama artinya dengan  お受け取りください =  silahkan diterima. Kata ini sangat sering dipakai dalam dunia bisnis.  Berikut adalah cara pakai kata tersebut dalam dunia kerja. (dikutip...

TRIP TO WAJO AND ENREKANG

DAY I

             Dua minggu lalu saya melakukan perjalanan dinas yang disponsori oleh kantor saya, ke kabupaten Wajo dan Enrekang. Saya melakukan perjalanan dinas bersama dengan atasan saya serta satu orang lagi dari pihak terkait. Tentunya saya tidak akan membahas tentang isi perjalanan dinas ini tapi saya akan menceritakan tentang perjalanan ke Wajo dan Enrekang yang ternyata sangat berkesan sekali. Terutama dengan pemandangan alam sepanjang perjalanan kami kesana.



          Saya mulai mengambil gambar ketika mobil kami telah berada di kab. Barru. Saya ingin sekali mengambil beberapa gambar selama kami dalam perjalanan dari Makassar ke Maros dan kemudian menuju ke Pangkep. Namun karena cuaca pagi itu berawan, saya tidak melihat pemandangan yang cukup menarik untuk difoto.

          Oh Iya, Kami berangkat dari Makassar pukul 5:50. Menurut pengalaman dari mereka yang pernah melakukan perjalanan ke Wajo, kira-kira butuh 4 jam lebih dari Makassar untuk tiba di Wajo. Berhubung kami punya janji jam 11:00, berangkat pagi hari sekali tentu sudah seharusnya. Perjalanan dari Makassar ke Maros hanya butuh kurang dari 30 menit. Selain mobil yang dilarikan cepat, lalu lintas juga masih lengang hingga kami tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Maros. Jika perjalanan ini dilakukan diatas jam 6, saya yakin akan makan waktu lebih dari 1 jam ke Maros. Apalagi sejak adanya pekerjaan pembangunan jalan di persimpangan Bandara Hasanuddin, waktu tempuh bisa sangat lama.

          Menurut sang Sopir, ke Kab. Wajo bisa melalui 3 jalan. Karena kita dikejar waktu agar waktu meeting bisa on-time, maka kami mengambil jalan "Bulu Dua". Mengambil rute ini berarti kami akan melewati daerah pegunungan dan itu berarti juga saya akan melihat pemandangan yang super dari ketinggian.


          Foto yang saya ambil tidak bisa dibilang bagus. Sangat susah mendapatkan gambar yang bagus kalau duduk di depan mobil yang berlari kencang. Sangat banyak yang terlewati. Jalanan yang kami lewati dari sejak kami mengambil arah ke Bulu Dua, cukup baik. Sebagian jalan telah dibeton namun sebagian lagi masih aspal. Tapi secara garis besar semua dalam keadaan baik. Tidak ada jalan yang terlalu rusak. Hanya beberapa tempat saja jalannya longsor karena hujan deras beberapa hari sebelumnya. Kami juga melewati proyek pembangunan kereta api di Barru. Sudah cukup panjang namun kelihatannya proyek sementara terhenti karena tidak ada kesibukan terlihat di tempat itu.

           Kira-kira satu setengah jam kemudian, jalanan kami mulai menanjak. Bulu Dua itu artinya Gunung Dua. Meski belum kelihatan namun jika melihat ke atas, tampak deretan gunung batu terjal berbaris di timur. Tampak kokoh dan gagah. Pemandangan mulai menarik. Saya tidak bisa tidur kalau pemandangannya sebagus ini. Di tengah perjalanan, atasan saya minta berhenti karena ingin minum kopi sekaligus ke toilet. Kira-kira 15 menit kami di warung kopi yang lokasinya cukup bagus. dari sini gunung Bulu Dua sudah kelihatan. Udara mulai sejuk, tidak sepanas Makassar. Tadi sebelum kami istirahat di warung kopi ini, ada mobil di depan kami yang terlihat kelelahan menaiki tanjakan. Asap yang keluar dari knalpot berwarna hitam dan tebal. Muatannya pun penuh. Suatu saat tiba-tiba mobil hitam dan cantik melaju melewati kami di tikungan pendek. Audi Q3, kalau tidak salah, melesat cepat dan mulus. Terlihat enteng dan tanpa banyak usaha untuk melaju secepat itu di tanjakan, sangat berbeda dengan mobil diesel yang didepan kami. Kami berdecak kagum dan serentak berkata "Ngapain mobil sebagus dan semahal itu di daerah gunung ini?" Seharusnya dia berlari di jalan kota Makassar saja. Kami terdiam, hanya bisa memperhatikan mobil itu sampai dia hilang di tikungan depan dan terlihat lagi.


           Perjalanan semakin menanjak sebelum akhirnya kami melewati Gunung Bulu Dua. Secara jelas terlihat sekali bahwa Gunung Bulu Dua ini adalah batu yang sangat besar.


Gunung Bulu Dua

          Sebenarnya gunung ini terlihat sangat cantik kalau dilihat langsung dengan mata sendiri.  Entah kenapa tidak bisa memperlihatkan keindahannya di sebuah foto. Tepat di bagian depan gunung ini, ada sejumlah warung makan dengan menu ikan air tawar. Jadi jika ingin menikmati sejenak keindahan gunung ini, bisa sekaligus makan siang atau sekedar berhenti meluruskan kaki sebentar juga tidak mengapa. Wajo masih setengah perjalanan.

         Setelah 4 jam akhirnya kami tiba di Kota Sengkang. Karena jam ketemu masih agak lama, kami memutuskan sarapan terlebih dahulu. Kota Sengkang berada tepat di samping Danau Tempe. Saya prihatin dengan keadaan Danau ini sekarang. Seluruh permukaannya hampir penuh dengan enceng gondok. Saya jadi kepikiran dengan danau Tondano, apakah akhirnya akan menjadi seperti Danau Tempe?  Menurut cerita warga setempat, Danau ini sudah dangkal,. Banjir tidak bisa dielakkan jika musim hujan seperti sekarang ini. Beberapa tempat terlihat tergenang air karena luapan Air Danau Tempe. Padi yang dipanen lebih awal karena sawah yang terendam banjir juga terlihat di sejumlah tempat saat di perjalanan tadi. Apesnya, saya tidak sempat mengambil gambar satupun di Kota Sengkang ini. Tapi kotanya cukup bersih menurut saya.

        Meeting dengan pemerintah daerah berjalan lancar dan kami dijamu di sebuah restoran yang bernama Restoran Jetpur. Singkatan dari Jet Tempur. Ceritanya di kota Sengkang ini ada sebuah monumen pesawat Jet Tempur. Ceritanya lengkap tentang Jet Tempur ini saya kurang tahu. Tapi seafoodnya cukup enak. Makan malam juga kami makan disini. Bermalam di Hotel BBC, sama sekali bukan British Broadcast Company. Sesuatu yang melibatkan Bausit dan Center dan satu kata yang saya lupa sama sekali. Hahahah. Hotel yang bagus untuk ukuran daerah. Sangat modern dan siaran TVnya juga beragam. Sayang dindingnya tipis. Orang yang berjalan dan ngobrol di koridor akan sangat mengganggu tamu yang istirahat di kamar.

DAY II


        Kami bangun pagi sekali, jam 5:00. Siap-siap, berkemas lalu check out. Setelah check out saya sarapan. Tidak bisa tidak sarapan. Untuk hotel yang berada di daerah, sarapannya cukup lengkap. Ada roti, ada kacang hijau, ada ketan hitam, ada nasi goreng, ada ayam, telur mata sapi, dll. Jam 6 tepat, kami sudah melaju di jalan. perjalanan kali  ini tidak ada tanjakan hanya jalan rata dan lurus. Sedikit membelok dan lurus lagi. Sampai bosan melihat sawah. Dari Sengkang hingga Kab Sidrap, area sawah agak terendam banjir. Dibeberapa tempat malah jelas terlihat air meluap dari sungai dan memenuhi sawah dan permukiman. Para petani terlihat memanen padi sedikit lebih cepat agar tidak mengalami kerugian lebih parah. Perjalanan ini sama seperti kemarin. Lancar karena masih terlalu pagi. Kami tiba di Enrekang lebih cepat 1 jam dari yang direncanakan.

         Pemandangan kembali mulai menarik ketika kami memasuki Kab. Enrekang. Jalanan menanjak dan berkelok. Setelah meeting resmi dengan pemerintah setempat kami berangkat ke lokasi Sutera Alam. Kebetulan  lokasinya agak jauh dari pusat kota dan mengarah ke Toraja. Saya sudah membayangkan akan melihat pemandangan yang bagus di perjalanan. Makan siang kali ini diatur oleh pemerintah kabupaten. Kami makan di restoran terkenal dimana setiap orang yang ke Toraja sering singgah makan disini. Pemandangan di restoran ini sungguh luar biasa. disisi timur ada Gunung Nona di sebelah barat ada gunung Bambapuang. Landscape yang cantik.

Gunung Nona

Gunung Bambapuang dilihat dari depan restoran

Disebelah Utara landscape nya juga tidak kalah cantik.


              Sangat disayangkan setelah pekerjaan ini selesai, Kami langsung kembali ke Makassar. Padahal jarak ke Toraja tinggal sejam lagi dari tempat terakhir kami berada. Membayangkan perjalanan ke Makassar yang akan memakan waktu 6 jam lebih membuat saya lemas. Daripada memikirkan perjalanan yang panjang ini, saya mulai mengambil gambar mulai dari dalam kota Enrekang. Kegiatan yang tidak bisa saya lakukan tadi ketika tengah serius membahas meeting dua hari ini.

Gunung Bambapuang

Masjid di Pusat kota Enrekang

      
            Jam 4 kami meninggalkan Enrekang menuju Parepare. Sopir kemudian mengambil jalan pintas. Biasanya rutenya menuju ke Sidrap lalu ke Parepare, namun jalan pintas ini katanya tembus ke Kab. Pinrang kemudian Parepare, Jauh lebih dekat dan jalanan juga tidak ramai karena belum terlalu banyak yang mengetahui jalanan ini. Jalanan yang kami ambil menyusuri sungai besar yang sedang meluap karena hujan deras hari sebelumnya. Kami beruntung karena selama dua hari, cuaca cerah meski dari kejauhan tampak mendung tebal.




          Jalanan yang kami tempuh kembali sama seperti saat Sengkang menuju Sidrap. Lurus dan rata. Sawah semua. Capek tapi saya tidak bisa tidur sama sekali. Saya agak terkejut ketika tiba dipusat kota Pinrang. Ramai.

pusat kota Pinrang

Gereja di Pusat kota Pinrang

             Dari Pinrang ke Parepare sudah tidak terlalu jauh. Tampaknya Pinrang menjadi kota ramai karena  dekat dengan Parepare yang ada Pelabuhan besarnya. Ketika tiba di Parepare, jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat. Jam yang tepat melihat kota yang mulai diterangi lampu di sana sini.

Kota Parepare

Kota Parepare

Pusat kota Parepare

pelabuhan Parepare

             Sebelum Kami singgah makan malam disebuah restoran makanan china, kami melihat pelabuhan Parepare. Masih sangat ramai.  Jam 7 kami berangkat dari Parepare kembali ke Makassar. Targetnya kami bisa tiba disana pukul 10 malam. Perjalanan dari Parepare ke Makassar terasa lama. Jalanan lurus dan panjang dan lebar. Pantat saya mulai sakit setelah lebih dari 12 jam duduk terus. Tidak ada yang bisa saya gambarkan dalam perjalanan ini karena sudah gelap malam Tidak bisa lihat yang lain selain jalan didepan saya saja.  Tapi masih bisa tahu kalau sepanjang jalan yang kami lewati adalah jalan di pinggi pantai. Pasti cantik sekali kalau bisa melihat sunset disepanjang jalan ini saat kembali ke Makassar.

         Meskipun mobil telah dikebut sangat cepat, tetap saja perjalanan ke Makassar memakan waktu  lebih dari 3 jam. Saya mencoba mengistirahatkan mata saya untuk beberapa saat. Tapi tetap terasa lama. Mencoba menebak setiap tempat yang kami lewati,, berharap telah tiba di Pangkep, namun entah kenapa Pangkep terasa sangat luas dan panjang sekali. Saya merasa tidak pernah melihat tanda-tanda sudah tiba di Maros.

           Entah berapa lama saya tertidur dan ketika saya membuka mata saya, kami telah berada di jalan tol, menuju Kota Makassar. Saya tiba di tempat kos jam 11 malam.  Bokong dan punggung rasanya sudah tidak berada di tempatnya. Lelah. Besoknya tetap harus masuk kerja dan kerjaan sudah menunggu. Ganbatte.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUCAPKAN なるほど / NARUHODO YANG BENAR

ASSORTED #2

THE GOOD SIDE OF MESSED UP LIVE