Baru-baru ini ada seorang teman baik yang mengatakan padaku bahwa saya tidak objektif menilai masalah yang sedang kami perdebatkan. Saya cenderung membela temanku yang lain, walaupun dia memang berbuat kesalahan. Tapi itu karena Saya sedikit mengerti alasan kenapa dia berbuat begitu. Nah, di sisi lain, temanku itu membela teman yang lain karena dia juga mengerti latar belakangnya dan juga karena teman yang dibelanya itu adalah sang "Korban".
Pada akhirnya, Saya lebih memilih keluar dari "liga" tersebut untuk menjaga netralitas begitu juga dengan teman yang berdebat denganku itu (sebenarnya bukan berdebat, kami berdiskusi.). Berhubung masalah yang itu sifatnya sangat pribadi dan kedua belah pihak hanya ingin didengar bukan mencari sekutu, maka kami memilih menjadi pendengar.
Memilih posisi bagi Saya, sangat susah. Kenapa? karena Saya terbiasa menempatkan diri saya di dua posisi. Mencoba adil dengan berpikir dari kedua sisi. Awalnya saya bingung. Merasa kehilangan sikap. Menilai dari sikap orang lain, mereka begitu mudahnya menjadi diri sendiri. Kalau mau marah, ya marah saja. Mau benci, ya benci saja. Mudahnya memutuskan menjadi teman atau musuh, menjadi iblis atau malaikat.
Ada yang bilang, sebagai manusia kita tidak bisa menjadi iblis sekaligus malaikat dalam memutuskan sesuatu. Nanti bingung jadinya. Susah menentukan menjadi korban atau pelaku. Lagipula kalau diri sendiri mencoba terus mengerti orang lain, orang lain kapan mengerti kita? Jadi katanya lebih gampang untuk menentukan sikap. Mau marah, jengkel, sedih atau merasa bersalah lebih mudah.
Saya memikirkan hal itu lama sekali. Menjadi iblis atau malaikat. Menjadi jahat atau orang baik. Menjadi baik artinya selalu menjadi korban dan sering menelan harga diri. Menjadi jahat, selain tampang dan fisik yang tidak memenuhi syarat, Saya juga orangnya tidak tegaan. Mana ada penjahat yang segan membuat kehidupan orang lain sengsara atau kasihan?
Lalu, pencerahan itu datang. Kenapa susah berpikir soal memilih posisi? Saya sudah di posisi yang benar. Tidak menjadi Iblis dan tidak menjadi Malaikat. Saya memilih mencoba menjadi manusia bijaksana. Artinya selalu berpikir di dua sisi agar lebih bisa mengerti posisi masalah yang ada. Masuk campur jika diminta, menjadi pendengar ketimbang pembicara. Dengan mendengar saya lebih bisa memahami. Jika berbicara terus, Saya adalah pihak yang ingin dipahami, tidak bisa mendengar suara lain jika suara sendiri lebih kuat dan dominan.
Menjadi lebih bijaksana bagi Saya penting. Karena Saya bukan orang yang baik atau jahat. Saya bisa baik dan kadang kadang harus marah dan melampiaskan emosi. Saya lebih memilih berlaku pengertian dimana jika pengertian Saya sudah sampai pada batasnya, maka emosilah yang memegang kendali. Hehehehe. Menjadi bijaksana berarti saya masih bisa berbuat dosa. Berbuat dosa berarti menunjukkan saya masih seorang Manusia. Manusia mana yang dalam hidupnya tidak berbuat dosa? Tidak ada. Menjadi manusia yang lebih baik meski masih berbuat salah, lebih penting ketimbang mencoba menjadi malaikat yang notabene tidak mungkin atau menjadi iblis yang mudah dilakoni namun lebih banyak membuat susah diri sendiri.
Jadi, jika ada yang bertanya kenapa saya masih kelihatan berteman dengan mereka yang sifatnya jelek, itu bukan karena saya mencoba menjadi malaikat baik hati tapi karena saya mencoba mengerti, bahwa memang begitulah mereka. Bijaksananya, Saya sendirilah yang harus pandai-pandai menempatkan diri saya diantara mereka tanpa harus merusak pertemanan.Tidak usah terlalu dekat dengan mereka. Munafik? Bukan. Saya mencoba bijaksana. Semoga emosi tidak mengacaukannya.
Komentar
Posting Komentar