What people usually do in Saturday morning, when they just released from a week of torture in office with bunch of task and have a late night hang out with colleagues the night before? Exactly. SLEEP until 10:00 am. And that is exactly what i want to do also. Sleep until my eyes itchy and my stomach cry for food. But i can't. I only succeed 'till around 8 am. After that, my eyes open so wide and force me to wake up from bed and some minutes later, I have to go to traditional market, buying my one week food stocks. Sucks, indeed.
Orang sering menatap padaku ketika berbelanja di pasar. What? never see a handsome guy doing shopping? Hahahahahah... saya terpaksa berpikir begitu agar saya tidak terprovokasi untuk merasa malu. Lagipula, kenapa harus pusing dengan pikiran orang lain? Entah bagaimanapun, saya selalu berpikir apa yang orang pikirkan ketika melihat saya menenteng tas hitam besar. I cant get it off. Bicara tentang tas kresek hitam besar, Tas kresek itu pemberian gratis dari seorang ibu penjual sayur dan bumbu di pasar. Dia sepertinya mengerti kenapa saya membutuhkan tas hitam besar. Agar orang tidak tahu apa isinya meski tahu itu belanjaan pasar. That thought make me a little comfort. heheheh. Camouflage.
Belanja. Sungguh bukan hobiku. Memasak, apalagi. Tapi sebagai orang
dewasa yang bekerja dan harus bertanggung jawab pada sendiri dan harus
tetap sehat dan hemat; garis bawahi HEMAT, saya terpaksa melakukannya.
It is for living. NO excuses.
Keluarga dan teman-teman tahu saya senang memasak. Sebenarnya bukan senang tapi awalnya terpaksa. Saya adalah pribadi yang suka protes. Apalagi soal makanan. saya pemilih. Picky. Daripada makan makanan yang dimasakkan oleh orang lain tapi tidak enak, lebih baik saya yang masak meski harus capek. Saya bukan profesional chef atau sejenisnya, tapi selama ini belum ada yang protes soal masakan saya. Protes karena terlalu pedas mungkin iya, tapi itu bukan kesalahan saya. Asal saya Minahasa, jadi tidak ada alasan tidak pedas. Harus pedas. heheheheh.
Alasan lain yang memaksa saya untuk memasak adalah demi kesehatan. Sekarang ini makanan enak belum tentu sehat. Mahal belum tentu sehat atau enak. Di kota besar seperti Jakarta atau yang lainnya, orang menghalalkan segala cara untuk untung meski mengorbankan kesehatan customer. Kau tidak tahu daging apa yang dimasaknya meski di papan nama tertulis "AYAM". Saya menolak istilah Murah meriah. Makanan sehat dan enak tidak ada yang murah. Makanan sehat bisa murah dan enak asal dimasak sendiri. Jika orang berjualan masakan, tidak akan mau menjual masakannya yang enak dengan harga murah. People would pay so much for the great taste. Apalagi yang enak dan juga sehat? pasti harganya sebanding. Jangan mau 2M, murah meriah, karena bisa jadi 4M. Murah, meriah, mu*t*h, Men*ret. Jika sampai dirawat di rumah sakit? Murah meriah jadi mahal dan rugi.
Seorang teman mengatakan bahwa dengan kemampuan memasakku sebenarnya banyak wanita yang akan jatuh hati. karena menurut riset yang dibacanya, yang dilakukan di Inggris, profesi Chef menduduki peringkat 1 yang disukai wanita. Saya tidak tahu itu pujian atau motivasi, tapi saya tidak berpikir demikian. Orang bisa punya alasan apa saja kenapa dia memasak, tapi bagiku memasak adalah sesuatu yang bisa membuatku bertahan hidup. Cooking for living. That's I am doing. In Weekend. Damn!
Komentar
Posting Komentar