Kembali hal ini menjadi topik padahal sebelumnya Saya sudah sangat yakin tidak akan membahasnya lagi. Awalnya adalah postingan saya tentang lowongan CPNS di Facebook. Kemudian beberapa teman memberikan komentar hingga salah satunya menyinggung yang sama sekali tidak terkait dengan hal yang saya posting. Menikah.
Dari kalimatnya tersirat bahwa sesuksesnya saya dalam pekerjaan tapi kalau belum menikah maka saya bukan apa-apa. What? Saya tersinggung. Bukan karena situasi saya yang masih bujang tapi karena dia seolah-olah menempatkan diriku sama seperti dirinya. Saya bukan orang yang berpikir bahwa menikah adalah sesuatu yang harus diburu-buru. Saya bukan orang menempatkan urusan menikah diatas segala-galanya. Bukan artinya saya menolak pernikahan tapi karena saya menganggap pernikahan itu sangat penting maka saya tidak ingin sembarangan. Seperti yang saya tulis sebelumnnya saya ingin peristiwa ini sekali seumur hidup dengan orang yang tepat. Menemukan 'soul mate' itu yang penting bagi saya.
Lagipula, dalam hidup ini yang terpenting bukanlah menikah. Saya tidak tahu pikiran orang lain, tapi tujuan hidup saya bukanlah menikah. Menikah itu salah satu fase dalam hidup, tapi bukan tujuan utama. Kalau memang menikah adalah segala-galanya lalu kenapa begitu banyak pasangan yang bercerai? Sebagian malah tampak bangga memamerkan pertengkaran dan mengumbar rahasia rumah tangga di social media. Itu yang namanya menikah?
Saya pikir setelah menikah maka cara berpikir sudah semakin dewasa. Ternyata tidak. Menikah itu menjadi salah satu cara menghakimi mereka yang belum di tahap tersebut. Setiap bertemu maka pertanyaan yang selalu terucap terlebih dahulu adalah "kapan menikah?" Ingin rasanya saya balas bertanya, "kapan bercerai?" Sungguh, jika saya orang yang tidak sopan sudah lama ungkapan itu saya ucapkan kepada mereka. Coba dipikir, kalau dengan bangga dan sombongnya menanyakan hal yang sensitif tersebut lalu kenapa juga tidak dibarengi dengan sikap yang elegan, meski rumah tangga sedang goyah, mencoba bersikap seperti keluarga yang bahagia bukannya malah mengumbar "cucian kotor" ke publik. Itu juga yang membuat saya bingung. Dia bertanya kapan menikah tapi secara tidak langsung memberi gambaran betapa mengerikan pernikahan itu sebenarnya.
Jujur, saya sangat bahagia sekaligus iri melihat teman-teman yang sudah menikah. Saya kagum karena keberanian mereka membangun keluarga. Keluarga adalah hal tersulit yang bisa dilakukan oleh manusia. Jika itu hal mudah, keluarga broken home, anak kurang kasih sayang, anak bermasalah, istri bermasalah, suami tidak setia, itu semua pasti tidak ada. Jadi sebenarnya menikah itu bukanlah hal yang harus disombongkan. Orang yang mengalami pernikahan yang gagal pasti akan bilang begini kepada saya, "gak usah menikah, gak enak", "Lebih baik seperti kamu jomblo, ngapain menikah kalau jadinya kacau begini?" Sungguh, sudah ada teman yang bilang begitu. Kenyataan. Saya baru menyadari hari ini, bahwa menikah bisa menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan berlebihan. Atau itu cuma salah satu cara untuk menutupi bahwa mereka sebenarnya tidak bahagia? Bisa saja. Jika orang-orang itu benar-benar bahagia, maka tidak akan ada kebanggaan yang berlebihan. Yang ada malah rasa syukur dan terima kasih. Orang yang rajin bersyukur tidak ada yang sombong.
Jadi menurut saya, menikah dilakukan saat semuanya siap. Mental, Spiritual, material dan soul mate. Dan yang utama Jodoh alias diberkati oleh Tuhan. Karena itu saya memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat, tidak peduli seberapa lama dan tidak peduli dengan omongan orang. Walaupun pada kenyataannya Saya selalu 'panas' jika disinggung soal ini dan ini lagi. Another Question please!
Komentar
Posting Komentar