Dua bulan lalu, saya mengambil keputusan, pada akhirnya setelah 4 tahun, untuk mengajar bahasa jepang di tempat kursus. Akhirnya mereka berhasil membuat saya lunak dan mau mengajar. Sebenarnya alasan saya untuk tidak mau menjadi guru atau pengajar karena saya telah menyadari bahwa saya tidak berbakat. Orang boleh bilang saya pintar, jago atau apapun itu, tapi sungguh saya tidak berpikir untuk menjadi guru atau pengajar. Karena memang tidak gampang dan membuat stress. Jadi guru tidak hanya bermodalkan kognitif tapi kesabaran dan pintar menangani anak2 didiknya, dalam hal ini berkaitan dengan psikologi.
Saya kebagian mengajarkan latihan soal dimana dalam sesi ini siswa diberi soal dan latihan untuk mematangkan pengertiannya pada grammar yang diajarkan sebelumnya. Jatah ajaran saya juga melingkupi kosakata baru dan kanji baru.
Pertama kalinya mengajar saya sedikit gugup, sedikit banyak maksudnya, namun berhasil kira-kira 70persen. Kali kedua saya pikir saya sukses 55%. Kali ketiga saya merasa hanya dapat 30%. Bukan berarti yang saya ajarkan salah. Tapi ternyata Saya tidak memahami apa yang sebenarnya yang seharusnya saya lakukan dalam sesi ajar saya. Jadinya saya terkesan hanya mengulang yang telah diberikan di bagian Grammar. Dan yang terparah pada kali ketiga, siswa-siswa saya terlihat bosan dan depresi. Saya merasa gagal total sebagai pengajar. Suasana kelas seperti dalam sebuah ruang operasi dimana dokter sedang melakukan operasi genting pada pasiennya. Tidak ada keceriaan dan tanda-tanda mereka menikmati pelajaran yang saya berikan.
Setelah pelajaran usai, saya stress! Saya masih menyisakan dua kali pertemuan. Entah bagaimana saya harus membuat keadaannya berbalik. Yang saya harapkan mereka bisa berhasil dalam ujian akhir mereka. Jika hasilnya jelek, saya benar-benar gagal dan benar-tidak berbakat menjadi pengajar. Saya akan mengundurkan diri. Jika hasilnya cukup baik pun, saya pikir akan mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan kegiatan ini.
Alasannya? Mental saya bukan mental baja. Kedua, hal ajar-mengajar ini sebenarnya telah menyita waktu senggang saya. Saya telah keluar dari zona nyaman saya dan itu mengganggu hidup saya yang monoton. Jadwal bermalas-malasan menjadi kacau. Saya sibuk mempersiapkan bahan ajar saya hingga larut malam dan melewatkan kegiatan rutin berselancar di dunia maya. Sungguh menyebalkan.
Tapi terlepas dari itu, sepertinya bahasa jepang saya jadi lebih baik. Saya tidak lagi menghabiskan waktu memikirkan dan mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Secara kejiwaan saya menjadi lebih sehat. Secara kognitif saya jadi lebih berilmu. Entahlah, sepertinya kemalasan dan keenganan bersosialisasi di dunia nyata lebih menggoda. Apakah ini ciri-ciri penderita HIKIKOMORI tahap awal? Semoga energi positif bisa menang. Kuharap!
Komentar
Posting Komentar