Saya adalah seorang dari sekian banyak orang yang tidak menyukai MLM pada awalnya. Alasannya? Banyak. Yang paling menyusahkan adalah mengajak orang lain untuk bergabung dan penentuan target tertentu yang harus dicapai dalam satu periode. Baru mendengarnya saja sudah capek.
Tahun 2014 adalah pertama kalinya, akhirnya, saya bergabung dengan MLM. Saya mencoba mengajak beberapa teman namun gagal dan akhirnya saya berhenti berusaha lebih lanjut karena saya sendiri tidak merasakan produknya bermanfaat. Lalu, pada awal pertengahan tahun ini, saya bergabung dengan MLM lagi. Naturally plus. Perusahaan Jepang yang memproduksi supplement kesehatan. Awal saya bergabung adalah tentunya karena alasan kesehatan. Saya percaya produknya karena melihat teman yang kembali sehat setelah beberapa tahun tersiksa karena tulang punggungnya bermasalah. Berikut adalah pemikiran saya tentang MLM.
Ada dua alasan kenapa orang mau bergabung dengan MLM. Pertama. Pada umumnya karena masalah uang. MLM memang menawarkan reward bagi anggotanya yang berhasil mencapai target baik itu member baru atau pencapaian penjualan. Bagi orang yang tidak menyukai MLM, seperti awalnya saya, reward bagi upline berarti kerja keras oleh downlinenya. Jadi berpikir downline-lah yang kerja mati-matian hanya supaya upline menjadi kaya. Apalagi kalau jaringan downline tidak berkembang. Bagi perusahaan sendiri, memberi reward pada member yang berhasil adalah wajar.
Perusahaan yang menerapkan bisnis MLM sangat bergantung pada kinerja membernya. Bagaimana member membuat produk perusahaan semakin terkenal lewat jaringan setiap member. Perusahaan dalam hal ini tidak mengeluarkan biaya besar untuk marketing seperti yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan konvensional. Sehingga biaya marketing dijadikan reward atau bonus kepada member yang sukses memperluas jaringannya. Jadi seperti pengalihan biaya marketing konvensional. Bedanya jika harus menjalankan marketing konvensional, biayanya pasti lebih besar. Memang jika dilihat dari berita-berita kesuksesan member MLM kita berpikir bonus mereka sangat luar biasa, belum lagi jalan-jalan keluar negeri dan lain sebagainya. Tapi jika dipikir dari segi perusahaan, perusahaan mana yang mau memberi bonus besar kalau keuntungan perusahaan tidak melimpah? Jadi sudah pasti bahwa bonus yang diberikan kepada member itu tidak seberapa dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan.
Bayangkan dengan perusahaan yang menjalankan sistem marketingnya secara konvensional. Harus merekrut tim marketing. Artinya ada pengeluaran bulanan yang telah tetap bagi para karyawan tersebut, berhasil atau tidak kerja mereka, perusahaan tetap mengeluarkan biaya. Iklan. Untuk menjual produk perusahaan harus membuat reklame, promosi, selebaran, iklan di majalah atau koran atau TV. Biayanya? Jika Stasiun TV bisa hidup lama hanya karena penerimaan dari iklan para kliennya, bisa dipikir berapa mahal sebuah iklan untuk sekali tayang. Kalau setiap hari tayang selama 10 tahun? Hmmm. Biaya yang besar bukan. Belum lagi iklan di media cetak.
Jadi ketika kita melihat orang lain atau kita sendiri bergabung di sebuah MLM dengan alasan bisnis, yaitu mendapat bonus atau reward dalam bentuk apa saja, hal itu wajar diterima karena kita telah bekerja. Setiap member adalah staff marketing. Terlepas dari MLM apapun, produk sepele atau tidak, cara MLM itu sebenarnya adalah cara yang pintar.
Faktor kedua yaitu mutu produk. Seperti saya yang bergabung karena melihat mutu produk, bergabung dengan MLM tujuan utama bukanlah bisnis. Tapi jika suatu saat jaringan sendiri berkembang dan kemudian kita mendapat bonus, kenapa tidak? Untunglah di Naturally plus, membernya tidak dibebankan untuk mencari member baru atau harus mencapai target tertentu setiap bulan. Produk S lutena benar-benar bermanfaat bagi saya. Saya hanya membeli 1 produk setiap bulan. Jika ingin menjalankan bisnisnya, pihak perusahaan tidak mengharuskan untuk membeli lebih dari 1 produk ini. Jadi membernya tidak tertekan. Bebas memilih apakah hanya menggunakan atau menggunakan dan memasarkan. Tentunya sistem bonus diberikan bagi mereka yang memasarkan. Jerih payah memasarkan produk ini menggiurkan sekali jika jaringannya cukup berkembang. Tapi walaupun tidak berkembang, bagi saya pribadi tidak mengapa. Kenapa? karena produk S lutena benar-benar bagus. Sayang kalau berhenti konsumsi. Kesehatan itu lebih berarti dari apapun. Hitung-hitung investasi kesehatan.
Berpikir diri kita tertipu karena sudah membeli produk MLM, itu salah. Kalau dipikir, sebenarnya semua orang sudah masuk "jebakan" perusahaan tanpa disadari. Barang sehari-hari yang kita beli di supermarket itu adalah hasil marketing perusahaan lewat iklan yang ditayangkan di TV atau dipasang di media cetak yang kita semua tonton dan baca setiap hari. Benar tidak?
Jadi jangan menganggap bisnis MLM itu hanya jebakan untuk membuat kaya upline saja. Umumnya, orang juga menganggap menjadi kaya / sukses lewat MLM adalah cara sukses yang lebih mirip sihir daripada kerja. Sekali lagi, MLM itu pekerjaan. Marketing lewat mulut ke mulut bukan lewat TV atau majalah dan staffnya bisa jadi nenek tetangga sebelah. Jadi tidak perlu alergi dengan MLM. Kalau tidak suka tidak mengapa, tapi jangan menganggap itu bukan pekerjaan. Dan sebelum menganggap MLM itu baik atau buruk,,pelajari saja dulu sistemnya dan jangan lupa lihat mutu produknya. Di Jaman modern seperti sekarang, jangan BODOH, nanti ketinggalan.
Komentar
Posting Komentar