Pernah tersiggung karena tulisan seorang teman di Media Jejaring Sosial? atau bahkan melaporkannya ke pihak berwajib? Sebenarnya beberapa orang memang berniat untuk memojokkan, atau mempermalukan seseorang di jejaring sosial dengan motif sakit hati, cemburu atau balas dendam. Contoh yang baru saja terjadi adalah twitwar antara artis senior dengan keluarga musisi di tanah air. Tapi sebenarnya ada beberapa juga yang hanya salah paham.
Saya sering kali membaca postingan teman atau bahkan seorang yang tidak saya kenal, baik di Facebook, Twitter atau bahkan BBM, yang menurut penilaian saya sudah kelewatan. Saya berpikir tulisan tulisan yang terlalu mengumbar perasaan pribadi tidak perlu dipertontonkan di depan publik. Ada yang suka memaki, ada yang sepertinya tidak menyadari telah membuka masalah rumah tangga (bahkan pernah ada yang posting urusan tempat tidur suami istri, Geesh) dan sebagainya. Tulisan yang menyinggung ketidakpantasan dalam bersosial di internet ini sudah beberapa kali dimuat di media, baik internet maupun cetak. Apa memang harus ada kursus kedewasaan sebelum seseorang sign in di sebuah jejaring sosial? Sepertinya harus lebih bijaksana sebelum mengungkapkan sesuatu di depan publik. Atau karena berpikir itu cuma tulisan? Nah itulah masalahnya.
Bahasa Tulisan saya pikir lebih sulit dibandingkan dengan bahasa percakapan. Dalam percakapan langsung, seseorang yang berbicara kelewatan tidak mungkin membuat seseorang tersinggung jika mereka sedang bercanda. Lewat mimik muka dan gerak tubuh kita akan tahu dia sungguh-sungguh atau bercanda. Lain lewat tulisan, seseorang akan tersinggung hanya dengan membaca tulisan yang mungkin diketik dengan huruf besar semua, atau pemilihan kata yang tidak tepat atau lebih sederhana lagi, tidak mencantumkan tanda baca.
Baru-baru ini Saya juga mengalaminya. Hanya karena seorang Sahabat Saya menulis di SMS-nya "whatever", Saya tersinggung. Dalam bayangan Saya, Dia telah marah dan tidak ingin membahas lebih lama. Dia telah bosan dan tidak peduli apapun alasan Saya. Masuk akal bukan. Tapi setelah dibicarakan langsung, ternyata dia saat itu sangat sibuk sehingga dia hanya membalas singkat dan maksud dari kata "whatever" itu menurutnya, terserah keinginan Saya saja. Lihat kan? begitu banyak persepsi jika kita hanya membaca suatu tulisan karena kita tidak melihat langsung atau tidak tahu situasi yang sebenarnya.
Nah, jika kata-kata yang sederhana bisa membuat "heboh" lalu apa yang akan terjadi jika menulis sungguh-sungguh kata yang sebenarnya tidak patut dan mempunyai arti kurang bagus atau kurang ajar? Perkelahian dan Peperangan sudah terbukti pernah terjadi karena "TULISAN". So now, be careful with not only what you said but also what you written. Let's be wiser!
sebenarnya mereka itu s alah menggunakan kata 'whatever', kan artinya bukan cuman sekedar 'terserah'
BalasHapusi am thinking about that way too. ;(
BalasHapus