Dulu ada tulisan tentang call center kali ini tentang mini market. Sungguh awalnya tidak pernah kepikiran bakal menulis tentang 'kegondokan' lainnya, tapi ini benar-benar keterlaluan dan berulang kali.
Minimarket 24 jam (atau yang buka sampe larut) sebenarnya membuat orang-orang di perkotaan semakin praktis. Tidak perlu ke Mall cuma untuk beli obat nyamuk atau snack. Bisnis retail ini berkembang pesat hingga keberadaannya diprotes tapi tidak bisa dicegah. Kenapa? karena banyak calon customer yang selain tertarik dengan harganya; yang katanya lebih murah (tidak juga menurut saya), ya itu tadi, PRAKTIS. Promosi yang dilakukan pun dibuat semenarik mungkin untuk menarik pembeli. Tapi diluar hal-hal yang menarik tersebut, Saya sudah mengalami dan mendengar pengalaman tidak menyenangkan dari orang-orang yang menjadi customer mereka.
Seperti yang saya alami barusan yang menjadi pemicu saya menulis tulisan ini. Belanja di I**omaret. Jumlah belanjaan Rp 93.800. Dengan entengnya si kasir bilang Rp 96.700. Saya mulai bingung, entah monitornya yang salah tayang, saya yang salah dengar atau kasirnya yang salah baca. setelah saya beri uangnya, si kasir begitu lamban mengembalikan kembaliannya. Setelah memberi kembalian, dia malah memberi pandangan dengan kesan agar saya bergegas karena ada orang lain yang antri mau membayar. Dia tidak memberi saya struk. Biasanya saya langsung pergi asal sudah dapat belanjaan dan kembaliannya. Tapi entah kenapa ada rasa tidak suka dengan pelayanan staf tsb hingga saya ogah pergi. Saya minta struknya. Tiba-tiba ada staf lain yang menggantikan dia dan yang melayani saya langsung pergi. Menghilang.
Saya sudah berjalan keluar toko ketika saya sadar bahwa uang kembaliannya memang kurang. seharusnya Rp 6.700 yang ditangan cuma Rp 3.300. Saya kembali dan komplain. Kasir yang baru tampak kikuk dan menghitung kembali lalu memberi jumlah uang yang seharusnya seraya meminta maaf. Saya mencoba menghitung dengan segala cara agar kembalian yang pertama tampak wajar sebagai kesalahan, tapi semakin lama saya semakin curiga bahwa mereka sebenarnya berniat tidak jujur. Pertama dia seakan lupa mencetak struk dan kedua darimana asalnya jumlah yang disebutkan pertama. Monitor tidak pernah bohong. Dan jika saya tidak minta cetakan struk, berarti dia mencuri dari saya sekaligus mencuri dari tokonya sendiri.
Saya jadi ingat pengalaman teman saya yang sama betul. Yang beda dia di A**amart. Begitu juga modusnya, sudah menyebut jumlah belanjaan yang kelebihan, si kasir juga enggan mencetak struk. Modus ini kayaknya dilakukan jika item belanjaan agak banyak dan antrian agak banyak juga. Ada faktor psikologi dimana customer ingin cepat-cepat karena tidak ingin terjebak di antrian sehingga bergegas pergi tanpa ingat mengambil cetakan struk. Atau yang saya perhatikan dan juga sering saya lakukan, mereka mencetak struk tapi customer yang malas untuk mengecek kembali.
Sepertinya modus lupa mencetak struk menjadi pilihan setelah koin kembalian menjadi komplain nasional. Jadi bagi para pembeli, walaupun sedang bergegas atau belanjaannya cuma sedikit, jangan lupa minta struk. Anda tetap waspada dan tidak memberi kesempatan bagi staf untuk tidak jujur. Ironi bukan? Sebenarnya banyak perusahaan yang membuka lowongan tapi tidak menerima karyawan karena masalah kejujuran dan sikap. Pengusaha kekurangan tenaga kerja tapi jumlah pencari kerja juga banyak sekali. Kapan maju Indonesia kalau moralnya payah?
How come?? Klo pake cash register kan harusnya semua jelas?? Kecuali abis kertas bon nya itupun pasti kelas di monitor??? Ckckkckckck... Mungkin hidup makin susah di indonesia sampe cari duit dengan cara nipu orang segala....
BalasHapusnah itu dia,... si cashier itu malahan nda mencoba tekan enter atau apalah itu untuk merampungkan transaksi. what is that mean? trying to erase the transaction right after i took the changes? i had been a cashier long time ago, so i know the trick.
BalasHapus