Perjalanan ke Bali ini merupakan yang kedua kalinya. Yang pertama kali saya mengikuti ujian kemampuan Bahasa Jepang bulan Desember lalu. Saya tidak terlalu menikmati perjalanan pertama karena tujuan saya adalah ujian. But this time, it is got to be an adventure.
Sebenarnya saya ke Bali kali ini juga karena ada urusan lain. Tidak benar-benar ingin liburan atau bersenang-senang ke Bali. Tapi karena urusannya hanya sebentar jadi saya memutuskan untuk sekalian bertualang disana.
Ide untuk bertualang sesungguhnya datang sehari sebelum keberangkatan. Teman yang sekarang tinggal di Bali terlihat sibuk sehingga tidak akan menemaniku setiap hari disana selain dirinya yang tidak bisa terlalu capek karena sedang dalam perawatan. Biasanya orang yang baru saja datang ke Bali tidak akan memilih tempat yang saya tuju. Khawatir terjadi sesuatu disana atau bosan karena bertualang sendiri, pasti ada. Tapi melakukan perjalanan sendirian itu bagi saya adalah sesuatu yang menyenangkan.
Sehari sebelum ke Bali saya memutuskan untuk merubah rencana. Berhubung saya juga hendak mencari lokasi untuk memotret, maka tempat sepi dan landscape yang bagus menjadi tujuan utama. Tidak mungkin saya menghabiskan waktu tiga hari di Bali hanya berkutat di daerah kuta dan sekitarnya. Mengandalkan internet, saya mendapatkan referensinya. Timur Bali yang kurang dilirik wisatawan. Perfect! Beruntung karena off Season jadi hotel tidak terlalu penuh dan menawarkan harga yang murah. Semua reservasi berjalan lancar.
Hari pertama di Bali. Saya tiba pagi, jam delapan. Teman saya menjemput dan kami memutuskan ke tempat mainstream. GWK. It is a nice place. Setelah makan siang kami pun langsung ke tempat dimana saya akan melakukan perjalanan seorang diri. Candidasa, Karangasem. Daerah di timur Bali ini hanya ramai dengan wisatawan orang tua atau keluarga yang benar-benar ingin bersantai. Tambah terdengar aneh 'kan? Kenapa saya ingin ke sini?
Kira kira hampir dua jam perjalanan dari Jimbaran ke Candidasa. Untung saja cuacanya cerah. Agak susah menemukan hotelnya karena saya dan teman saya juga belum pernah ke sini. Sopir akhirnya memelankan mobilnya sepanjang Candidasa agar kami tidak melewatkan hotelnya. Akhirnya ketemu.
Yang saya suka tentang hotel ini adalah kolam renangnya. Tidak besar memang tapi dibuat berbatasan dengan garis pantai jadi bisa mandi sambil memandang langsung ke arah laut.
selain kolam renang, kamarnya juga cukup besar. Ada teras dan pantry. Di sekitar hotel ada beberapa cafe and restaurant dengan masing-masing style and suasana yang berbeda. Jadi tergantung kita mau menu apa. Indonesian, Chinese food or western. Saya suka suasananya. Tenang dan tidak terlalu ramai kecuali mobil yang hilir mudik dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Minimarket ada 4 disini. Jadi tambah praktis buat beli apa saja.
Menurut referensi di internet, di Candidasa ada satu tempat yang harus dikunjungi. White Sand Beach Lokasi pantainya tersembunyi. Berjarak kira-kira 25 menit dengan kendaraan. Tempat ini akan menjadi tujuan utama saya di Candidasa. Pantai disekitar hotel tidak terlalu bagus untuk berenang. Setelah tanya sana tanya sini, ke White Sand Beach dengan motor berbiaya Rp 150 ribu. Berhubung saya tidak bisa bawa motor jadi harus diantar jemput. Saya agak merasa tidak sreg dengan harga tersebut. Kata mereka jaraknya hanya 5 kilometer, jadi saya memutuskan untuk jalan kaki. Niat awalnya memang ingin bertualang. Sekalian saya bisa foto-foto jika menemukan objek bagus di jalan.
Saya memulai perjalanan jam 6 pagi. Saya mulai merasa bahwa perjalanan ini akan lama dan menguras tenaga. Ditambah saya membawa lengkap kamera dan lensa-lensanya. sekitar 35 menit berjalan, saya mulai menanjak. Jalanan mulai ramai. satu jam setelahnya saya tiba di puncak bukit tanjakan ini.
Di puncak tanjakan itu juga ada sekelompok monyet. Jenis yang tidak menyerang. Walaupun begitu saya tidak mau melintas disisi mereka. Lihat yang saya temukan disini, pemandangan matahari terbit di balik bukit yang sangat indah. Keputusan untuk jalan kaki mulai menampakkan manfaatnya. Hahahaha.
Saya meneruskan perjalanan setelah cukup memotret. Menuruni tanjakan pun dimulai. Beberapa kali truk besar melintas nyaris di sisi tangan saya. Tanjakan dan turunan ini cukup berbahaya untuk pejalan kaki. Sebetulnya saya melihat jalan kecil menurun di samping turunan ini namun saya ragu apakah jalan itu tembus ke bawah atau hanya akan membuat saya tersesat. Tapi melihat betapa beresikonya turunan ini, saya jadi yakin jalan tersebut benar jalan untuk pejalan kaki untuk naik dan turun dari desa ke arah pura yang ada di puncak bukit.
Setelah melewati turunan tersebut, saya tiba di desa Bugbug. Just another great landscape. Ada sawah, ada gunung, ada pantai.
Dari Desa Bugbug masih jalan kaki lagi setengah jam untuk sampai di Pantai Pasir Putih. Banyak pepohonan yang ada disepanjang jalan sehingga kulit tidak terbakar matahari. Pas jam delapan saya tiba di Pantai. Lelah berjalan dua jam terbayar sudah. Indah sekali pantainya. diapit dua tebing karang yang tinggi. Saya pikir saya yang pertama, ternyata sudah ada wisatawan disana.

Tiba-tiba ada seorang bapak datang menghampiri dan menawarkan jasa perahunya. Saya sejujurnya tidak merencanakan akan naik perahu, tapi ada sebuah pulau di depan sana yang sangat menarik perhatian saya. Saya berpikir mungkin bisa naik dipulau itu dan memotret the only tree that grow on that rock. 200 ribu. Begitu kata si Bapak ketika mengatakan biaya jasa perahunya. Saya menawar 150 ribu karena memang hanya itu uang yang ada, yang saya bawa saat itu. Si Bapak mengiyakan dan langsung menurunkan perahunya kembali ke pinggir pantai. Hoop! Saya pun meloncat kedalam perahu dan kita pun melaju ke Pulau. Laut sedang bersahabat pagi ini.

Keinginan untuk naik ke pulau karang tidak bisa terwujud. Air yang sedang pasang membuat kapal seperti terhisap ke arah pulau. Batu karang di sekitar pulau sudah menanti. Saya membatalkan niatku dan meminta si Bapak untuk menjauhi pulau meski si Bapak mencoba meyakinkan bahwa naik ke pulau adalah hal yang memungkinkan. Jadilah kita hanya memutari pulau tersebut. Pemandangannya sungguh luar biasa. disamping tebing disebelah kanan pantai ada gua besar dan disebut gua Kelalawar. menurut cerita si bapak, kalau mereka berburu kelelawar, perhitungan pasang surut harus tepat atau bisa mati terkurung di dalam gua.
Berada disisi tebing kanan ini, saya melihat pantai yang menurut perkiraan saya adalah pantai Desa Bugbug. Si Bapak membenarkan tebakan saya dan mengiyakan keinginan saya untuk turun di Pantai tersebut. Selain ingin mengitari daerah itu, saya pikir juga untuk memperpendek jarak jalan saya. Tambah lagi, rasanya tidak menarik jika harus melewati jalan yang sama ketika pulang nanti.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Selalu begitu. Jika kita pergi ke suatu tempat, perginya akan terasa lama dan pulangnya akan terasa lebih cepat. Keluar dari Desa Bugbug saya kembali ke jalan raya, tepat sebelum memulai tanjakan itu lagi. Menimbang rasa lelah dan resiko melewati jalan itu, saya pun memilih naik mikrolet. Rp 5000 dan saya pun tiba di hotel pas 1 jam sebelum jam sarapan selesai. Rasa capek dan kaki yang mau copot sebanding dengan petualangan ini. Rasanya seperti Dora the Explorer mungkin. Hahahaha.
Satu hal yang saya senangi di Bali ini adalah kita bisa jalan dimana saja tanpa ada rasa khawatir, akan ada kejahatan di jalan.
next : Adventure in Bali #2
PS: kualitas foto berbeda karena dipotret dengan HP dan DSLR.
Komentar
Posting Komentar