Tulisan ini adalah tulisan pertama Saya yang mungkin berguna buat orang lain karena berisi sedikit tips untuk mereka yang ingin mengadakan perjalanan ke Malino di Gowa dan ke Taman Nasional Bantimurung di Maros, Sulawesi Selatan.
Sudah dua tahun lebih Saya tinggal dan bekerja di Makassar tapi baru dua tempat wisata yang Saya datangi. Pertama adalah Bantimurung dan kedua adalah Malino. Dua perjalanan Saya tersebut semuanya tidak direncanakan alias mendadak. Tapi cukup menyenangkan karena Saya menikmati pengalaman tersebut.
Perjalanan pertama adalah ke Taman Nasional Bantimurung yang berada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bantimurung adalah tempat yang dibanggakan oleh Kabupaten Maros karena tempat ini menjadi sarang bagi banyak jenis kupu-kupu. Tapi yang disayangkan jumlah Kupu-kupu yang ada semakin sedikit tidak sama seperti dulu. Di Maros juga terdapat bukit-bukit karst yang unik dan juga beberapa gua Stalagnit dan stalagtit bahkan ada gambar lukisan purba. Tapi tempat yang Saya datangi adalah tempat kupu-kupu dan juga Gua Mimpi.
Tanggal 17 Agustus 2011, dimana warga negara Indonesia yang lainnya sedang sibuk upacara dan mengikuti berbagai perayaan untuk memperingati Hari Kemerdekaan, Saya dan seorang teman memutuskan untuk pergi ke Bantimurung. Kita memutuskan untuk membuat perjalanan yang seru dan murah, yaitu dengan naik angkutan kota saja. Dari pusat kota, di Samping MTC karebosi, kami mengambil mikrolet jurusan Sudiang; mikrolet di Makassar disebut PetePete, Huruf D. Kami minta tolong sama sopirnya untuk diturunkan ditempat dimana kami bisa mengambil petepete ke Maros. Kami berdua diturunkan tepat di persimpangan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ongkosnya hanya Rp 4000. Petepete yang ke Maros didepannya bertuliskan PANGKEP. Minta tolong pada sopirnya untuk diturunkan di tempat petepete Bantimurung. Ongkosnya Rp. 5000. Ya, benar. Murah! Dan bersimbah keringat. Hahahhaha.
Kami turun pas, tepat dimana petepete ke Bantimurung menunggu penumpang. Bukan terminal resmi tapi bahasa kerennya terminal bayangan. Kalau mau cepat memang harus lewat jalur begini. Yah, namanya juga masih di Indonesia. Kalau mau cepat harus pintar-pintar cari “jalan pintas”. Dari Makassar sampai ke tempat ini makan waktu kira-kira 2 jam. Untuk ke lokasi Taman Nasional Bantimurung perlu sekitar 30 menit lagi. Dan sekali lagi, perjalanan ini penuh keringat.
 |
| gerbang menuju taman nasional bantimurung. (sumber:google) |
Tiba di lokasi wisata, harus membayar Rp 10.000 per orang untuk bisa masuk kedalam. Murah. Di depan loket, para pedagang sudah berjejer menjual hasil kerajinan mereka yang sebagian besar adalah pajangan Kupu-kupu yang sudah diawetkan. Saya jadi mengerti kenapa Kupu-kupu di Bantimurung berkurang, ternyata sudah menjadi pajangan. Di satu sisi Saya menyayangkan hal ini tapi di sisi lain ini adalah mata pencaharian mereka. Semoga saja Kupu-kupu yang ditangkap sudah sempat bertelur hingga kelanjutan spesies mereka tetap berjalan.
 |
| pajangan Kupu-kupu yang diawetkan (sumber:google) |
Masuk kedalam, Saya langsung merasakan kesejukan dari pohon-pohon rindang. Lokasinya cukup bagus meski kelihatannya tempat ini harus segera direnovasi. Tapi lokasinya bersih. Itu yang penting. Belum banyak pengunjung saat kami tiba disana. Kami langsung menaiki tangga, menuju lokasi dimana kupu-kupu berkumpul. Tapi sayang kupu-kupunya sedikit. Mungkin belum musimnya. Kami berjalan terus karena ada yang bilang ada goa yang menarik. Di sepanjang jalan setapak, kami tidak lupa untuk foto-foto. Begitu juga di Gua. Tapi sebenarnya Gua tersebut, setelah kami masuk tidak cukup dalam dan buntu. Buat yang ingin masuk ke Gua tolong diingat, sebaiknya membuat kesepakatan yang jelas dengan penyewa Senter. Agak sedikit mahal untuk waktu yang singkat, Rp 20.000 – Rp 25.000. Yah, daripada tidak bisa melihat apapun didalam Gua, kan? Lagipula penyewaan senter sudah termasuk dengan jasa ‘Guide’. Sayang di dalam Gua sudah banyak coretan cat dari pengunjung yang tidak berpendidikan.





Dari situ, kami kembali ke bawah. Kali ini sudah banyak orang yang mandi di air terjunnya. Sebenarnya bukan air terjun, tapi lebih tepat air berundak yang mengalir cepat. Airnya cukup jernih dan terasa segar. Saya agak kecewa karena merasa apa yang ditawarkan tempat ini hanya sedikit. Tidak hingga Saya melihat bagian kiri taman nasional ini. Gua Mimpi.


Kebetulan ada ‘Guide’ yang langsung menghampiri kami dan menawarkan jasa pengantaran. Tapi berhubung sudah siang kami memutuskan untuk makan dulu sebelum masuk ke dalam Gua. Kami harus keluar dari gerbang taman untuk makan. Di depan loket ada jejeran rumah makan tapi yang buka cuma beberapa saja. Pilihannya tidak banyak, maksud saya makanannya. Jadi jika ingin makan yang kalian suka silahkan bawa sendiri, alias membawa bekal makan siang. Yang harus diingat, sebelum keluar dari gerbang, sebaiknya melapor pada petugas penjaga loket agar tidak dikenakan tiket masuk lagi dan simpan robekan tiket yang anda beli sebelumnya. Atau buat ‘seunik’ mungkin wajah anda sehingga penjaga tersebut tetap mengenal wajah anda. It works for us. Heheheh
Selesai makan siang kami langsung menuju ke Gua mimpi. Guide lokal yang tadi sudah menunggu dan menawarkan jasanya lengkap dengan senter. Peringatan. Tanya dengan jelas berapa biayanya. Jika tidak akan berakhir seperti kami. Saat keluar dari Gua, harganya berubah. Jalan menuju ke Gua mimpi sangat menantang. Naik terus hingga seluruh otot kaki menjerit protes. Sudah lama tidak melakukan kegiatan alam seperti ini. Teman Saya nyaris menyerah dan harus berhenti beberapa kali sebelum akhirnya sampai di mulut Gua. Sebelum masuk, foto-foto lagi.


Guide memberi penjelasan kalau panjang Gua adalah 800 meter, cukup panjang, dan tembus dibagian lain dari bukit yang kami naiki. Nama Gua mimpi diberikan karena awal Gua ini ditemukan adalah dari mimpi. Sound interesting. Kami masuk dan kegelapan langsung menyergap. Bersenjatakan senter kami menyusuri goa tersebut. Ada jalan setapak dari kayu yang sebagian besar sudah lapuk dan rusak. Ada beberapa bagian yang cukup berbahaya karena kami harus meniti jembatan kayu dengan lobang besar menganga dibawahnya. Kaki Saya sering gemetaran. Guide kami terlihat santai sembari menceritakan bentuk-bentuk stalagnit dan stalagtit yang menyerupai binatang. Kelihatannya dia benar-benar mengetahui seluk-beluk Gua. Saya lupa semua karena terlalu fokus memperhatikan pijakan. Saya sempat juga memotret laba-laba gua yang cukup besar ukurannya.


Keluar dari Gua, kami harus menuruni bukit. Jalan turunnya lebih curam dari tempat naik tadi. Lagi-lagi otot kaki Saya harus kerja keras diluar kebiasaannya. Sampai di bawah, kaki Saya gemetar karena kelelahan. Keringat mengucur deras dan sialnya Saya tidak membawa baju ganti. Teman Saya berjanji dan berikrar tidak ingin mengalami yang seperti ini lagi. Memang melelahkan. Saya pikir kengerian di dalam Gua, membuat energi lebih banyak terbuang daripada naik turun bukit itu. Saran Saya, jika memang tidak berani, jangan masuk Gua. Terlalu bahaya karena kemungkinan besar kayu-kayu pijakan di dalam Gua sudah lebih lapuk. Kecuali jika pemerintah kabupaten Maros serius untuk menata kembali Taman Nasional Bantimurung. Sebenarnya dahulu di dalam Gua sudah ada fasilitas penerangan selain jalan setapak dari papan. Namun tidak ada lagi. Mungkin jika Saya tahu keadaan sebenarnya di dalam Gua Mimpi, Saya tidak akan masuk. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan.


Kami kembali kedalam taman untuk beristirahat dan membersihkan kaki dan wajah. Setengah jam setelahnya, kami memutuskan kembali ke Makassar. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00. Perkiraan kami, tiba di Makassar sebelum jam 6. Untung saja transportasi ke dan dari Bantimurung sangat lancar. Jadi tidak perlu khawatir tidak bisa pulang atau menunggu lama di perjalanan hanya untuk naik kendaraan balik ke Makassar. Sekian cerita saya di Bantimurung, untuk cerita Malino, akan saya lanjutkan nanti. Intinya perjalanan ini menyenangkan, mendebarkan, tidak terlupakan dan melelahkan dengan keringat bercucuran. Tapi yang penting adalah MURAH. Hahahaha.
Komentar
Posting Komentar