Atarashi kotoba "OOSAME KUDASAI"

Gambar
  Kali ini, saya mau membahas satu kata dalam bahasa Jepang yaitu  お納めください. Jadi ceritanya hari ini saya nonton anime baru yang diadaptasi dari Manga yang berjudul "Tondemonai Skill de isekai houroumeshi".  Cerita di versi manganya menurut saya bagus. Gaya menggambar karakternya juga sedikit berbeda dari manga yang lain. Sejauh ini anime nya mirip dengan yang di Manga. Di episode kedua ini, ada satu kata yang menarik perhatian saya. Kata ini ada di adegan saat Ketua Merchant Guild hendak membayar Garam dan Lada milik Mukouda san. お納めください 。Lalu terlihat adegan resepsionis menyerahkan uang.   Arti dari Oosame kudasai ternyata "silahkan diterima (uangnya)". Secara arti kata, osameru 納める berarti : menerima uang, barang, dll, dan menjadikannya milik sendiri. お納めください (oosame kudasai) sama artinya dengan  お受け取りください =  silahkan diterima. Kata ini sangat sering dipakai dalam dunia bisnis.  Berikut adalah cara pakai kata tersebut dalam dunia kerja. (dikutip...

PLANNED JOURNEY #1

     Dua minggu lalu saya pergi ke Medan  bareng sahabat saya untuk menghadiri pernikahan seorang sahabat yang lain. Rencana ini telah dibuat jauh hari, beberapa bulan yang lalu. Sayangnya, beberapa teman yang katanya mau ikut juga, terganjal izin cuti dan alasan kesibukan. Tanggal keberangkatanku tanggal 17 Oktober.

    Hari masih gelap, jam baru menunjukkan pukul 4:00 pagi ketika aku keluar dari kost. rencananya mengejar bus Damri yang akan ke bandara yang menurut tulisan di  blog, sudah ngetem di depan Kantor RII Makassar dan akan berangkat pukul 5 pagi. Ternyata tidak ada sehingga aku terpaksa ke bandara dengan taxi. Masih mengantuk tapi mata sudah tejaga dan tidak mau tertutup lagi. Jika tahu Damri-nya tidak ada, aku tidak perlu buru-buru keluar jam 4 pagi.

     Pesawat baru akan berangkat jam 7, dan aku sudah di bandara pukul 5 pagi. Terpaksa menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya berangkat, dan tiba di Jakarta pukul 8 lewat waktu setempat. Disana saya ketemu dengan Sierra yang sudah berada di Jakarta beberapa hari sebelumnya. 6 bulan tidak bertemu dan dia seperti makin kurus saja. heheheh.

     Dari Jakarta ke Medan kira-kira dua jam lebih. Meski ngantuk, saya benar-benar tidak bisa tidur. Ketika pesawat mendarat, saya terkejut melihat bandara Medan yang seperti bandara Manado pertengahan tahun 1990-2000. Masih berupa bangunan satu lantai dan lama. Diluar dugaan. Tapi ternyata bandara baru sudah akan rampung mungkin tahun 2013. Dengan bangunan megah dan berada sedikit diluar perkotaan. Sekarang jalan tol kesana sedang dalam pembangunan. Vina, teman saya yang akan menikah, sejatinya sudah berada di Medan tiga hari sebelumnya namun batal menjemput karena sibuk dengan persiapan pernikahan. Dengan tuntunan sms dan telpon, kami diarahkan ke Dairi Transportation center dengan tujuan Sidikalang. Perjalanan akan ditempuh dalam waktu 5 jam.

     Bus berangkat jam 3 sore. Sepanjang perjalanan, lagi lagi mata saya tidak mau diajak kompromi. meski lelah mereka berdua tetap terjaga. Untunglah jalan menuju ke Sidikalang lurus-lurus saja. Itu awalnya, memasuki 1 jam perjalanan, jalanan mulai berkelok dan menanjak. Masuk ke daerah Brastagi, kelokan semakin kejam dan tajam dan menanjak curam. Lebih ngerinya lagi, mobil-mobil besar beroda lebih dari enam seperti tidak peduli dengan kendaraan lainnya, mengebut kencang bahkan ketika di tikungan. Alhasil mata semakin membelalak lebar. Sementara itu, Sierra terlelap dengan indahnya. Nasib. Kengerian semakin dramatis ketika beberapa kali nyaris ditabrak oleh truk besar karena sopir disebelahku, melambung di tikungan. Tambah dramatis karena dirinya tanpa peduli dengan ketakutanku, menelpon, menerima pesan dan mengirim pesan sambil menyetir. Aku sudah pasrah jika memang hidupku akan berakhir di Medan.

     Setelah dua jam lebih perjalanan, jalanan sudah lebih bersahabat sehingga saya bisa menikmati pemandangan. Sierra akhirnya terjaga dan kami berdua mulai menamai daerah-daerah yang kami lewati dengan nama daerah di Minahasa. Kontur dan pemandangannya sungguh mirip dengan Minahasa. Rasanya tidak pergi ke daerah yang asing dan baru pertama kali dikunjungi. Lebih terasa seperti pulang kampung. Belum lagi banyaknya bangunan gereja yang kami lihat disepanjang perjalanan.

     Perjalanannya terasa sangat panjang. Tempat dudukku sudah panas sekali. Mungkin jika ada telur ayam atau bebek yang kududuki, dia pasti sudah menetas. Bus sempat berhenti sekitar 20 menit di tempat persinggahan untuk makan malam. Saya dan Sierra memilih tidak makan dengan alasan mabuk darat. Belum lagi jetlag yang masih mengganggu.  Satu yang saya sesali, saya lupa mengambil foto daerah-daerah yang kami lewati karena begitu takutnya saya dengan cara  menyetir sopir batak itu.

     Akhrinya setelah hampir 5 jam tersiksa, kami pun tiba di Sidikalang. Cuaca dingin khas pegunungan langsung menyergap. Tunangan Vina, Budy, menjemput kami di loket mini bus dan pergi ke rumahnya, dimana vina sudah menunggu. Sebenarnya merasa tidak enak menolak tawaran menginap dirumah tunangannya, tapi karena tidak ingin mengganggu, saya dan Sierra meminta langsung diantarkan ke Hotel. Rencananya  kita menginap di hotel esok harinya. Tapi  biarlah. Mencari kenyamanan itu lebih penting. Meski hotelnya sedikit diluar harapan tapi tak apalah.

     Dinginnya malam di Sidikalang sepertinya bisa ditandingkan dengan dingin di Tondano. Menusuk tulang. Capek di jalan seharian akhirnya mengalahkan juga dinginnya malam. Aku terlelap. Harus punya tenaga untuk hari-hari kedepan. (To be Continued)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUCAPKAN なるほど / NARUHODO YANG BENAR

ASSORTED #2

THE GOOD SIDE OF MESSED UP LIVE