Hari kedua di Sidikalang. Cuaca yang redup karena mendung menambah dingin suasana pegunungan yang memang sudah dingin. Meski begitu, entah kenapa saya tidak bisa tidur hingga siang. Bahkan aku sudah bangun dari jam 4 pagi. Karena siklus tubuh sudah terbiasa bangun jam 5 WITA, akibatnya saya bangun jam 4 pagi. Ingin terlelap kembali tapi tidak bisa. Akhirnya saya melakukan gerakan-gerakan ringan untuk mengusir dingin yang menghebat saat fajar akan menyingsing.
Jam setengah tujuh saya keluar kamar dan menjelajahi penginapan. Bagian belakangnya menghadap ke persawahan yang diapit oleh bukit dan pemukiman warga. Kebetulan sekali, tempat untuk sarapan sudah buka. Minum Teh Manis panas dan kemudian mencoba ikan danau toba yang digoreng kering saus tomat. Nama ikan itu Ikan Bili bili, menurut ibu yang menjaga kantin.
Hari kedua ini nyaris tidak melakukan apa-apa. Cuma sedikit jalan-jalan dan memotret. Bunga lagi, bunga lagi. Besok adalah the H-day. Tapi entah kenapa kita sama sekali tidak sibuk. Saya dan Sierra berkeliling Sidikalang untuk mencari makan. Dari kemarin, Saya hanya makan dengan lauk bebek goreng. sudah 3 kali. Tapi malamnya sungguh beruntung. Ada kios makan China. Cap Cae-nya enak sekali. Akhirnya ada makanan lain selain BP dan bebek
Rombongan kedua yaitu keluarga Vina tiba dari Medan jam setengah sepuluh malam. Lebih larut meski jam berangkat mereka dari Medan lbih awal. Penyebabnya ternyata karena sopir mobil yang mereka tumpangi belum menguasai jalan dan baru pertama kali ke Sidikalang.Acara Adat Batak ternyata sudah dimulai. Keluarga dari pihak mempelai laki-laki berkumpul semua dan berdiskusi dengan nada tinggi. Bukan marahan, tapi begitulah cara mereka berbicara. Mereka menjelaskan secara singkat tentang acara besok hari dan ketika selesai, kita langsung ke Penginapan. Malam ini lebih dingin dari malam sebelumnya.
Hari ke 3. Hari-H. Para wanita ke salon pagi-pagi benar. Sementara saya, kembali kesulitan tidur nyenyak sehingga memilih rutinitas seperti hari sebelumnya. Sayang ikan Bilibili-nya tidak ada. sarapan pagi ini cuma telur dan sayur. Pukul 7 saya mandi dan bersalin pakaian. Khusus untuk hari istimewa ini Saya untuk pertama kalinya memakai kemeja Pink. PINK. Kemeja ini hanya akan saya pakai hari ini saja. Tidak ada kesempatan yang lain. Tidak mau memakainya lagi meski sebenarnya saya terlihat biasa-biasa saja. Pink is just not really me.

Kita berangkat belakangan setelah kloter pertama pergi. Jam 9 tiba di rumah mempelai pria. Acaranya sudah dimulai dari jam 8. Acara Adat Batak. Selain mempelai, semua tamu yang hadir duduk bersila. Kita diarahkan ke dalam tapi memilih di dapur agar sedikit bebas dan tidak terlibat acara adat yang sama sekali tidak kita mengerti. Selain tata caranya, bahasa yang dipergunakan juga Bahasa Batak. Lost in Transalation part 3. Ketika mempelai akan berangkat ke gereja, kita yang berada di dapur langsung kedepan dan bergabung dengan keluarga mempelai perempuan. Sungguh ribet acaranya. Saya langsung potret sana potret sini. Setidaknya terlihat sibuk. Satu yang mirip, ada group musik bambu yang mengiringi, jadinya sedikit meriah. Karena mereka berada tepat dibelakangku, bukan meriah lagi yang kudengar, tapi ramai dan bising. Musik bambu ini sedikit mengingatkanku dengan acara kawinan di Tondano tahun 80-an.
Ketika berangkat ke Gereja, kami memilih jalan kaki karena jaraknya yang dekat. Gerejanya besar dan bagus. Dibiarkan alami hanya tumpukan batu bata dan tidak dicat. Tapi tampak luar tersebut membawa kesan yang unik.Setelah Pemberkatan di Gereja, kami berangkat ke tempat resepsi. Dimana acara adat berikutnya akan dilanjutkan. Banyak hal yang unik dan baru pertama kali kulihat dan kualami di acara pernikahan ala Batak. Demi menghormat adat mereka dan teman saya, semua kesan yang sedikit "unik" tersebut tidak akan kuceritakan disini.Tapi intinya, acara adat Nikah ala Batak itu sangat lama. Dan berhubung bahasa yang digunakan tidak dimengerti sama sekali, kami pulang lebih cepat sebelum acara benar-benar selesai.
Hari ke 3 ini sangat "berkesan" sekali. Membuka mata dan mengajak keegoisan untuk lebih kompromi dan menghormati perbedaan. Walaupun untuk beberapa alasan, ada beberapa cara yang sedikit tidak bisa diterima. Tapi itulah cara mereka, Adat mereka, gaya hidup mereka.
Rencana untuk hari berikutnya adalah, ke Danau Toba, menginap sehari dan lanjut ke Medan, dan ke Jakarta. (to be continued).
Note: More picture for next article
Komentar
Posting Komentar