Ini topik yang tidak enak bagi beberapa orang baik pria dan wanita yang sudah merasa cukup umurnya namun belum menikah. Beberapa tidak mempermasalahkan karena memang memilih untuk tidak menikah sebagai status hidup.
Dari 11 orang teman dikelas Bahasa Jepang yang sering jalan bareng dengan saya, 10 diantaranya sudah menikah dan mempunyai anak. Bahkan ada yang baru saja merayakan hari lahirnya bayi yang kedua. 1 yang belum menikah, tentu saja Saya. 2 teman baik saya lang lain, yang satu baru saja melahirkan dan yang satu lagi sedang hamil tua, mungkin Desember anak pertamanya lahir. Berarti sudah 12 orang teman yang menikah. Yang lain tidak usah disebutkan karena nantinya jumlah yang menikah semakin banyak dan yang pasti menyisakan saya sendiri yang masih bujang.
Sejak di kampus dulu, jika ada yang menanyakan kapan saya menikah saya langsung ngomong, “mungkin umur 40 tahun”. Sekarang saya menyesal. Sepertinya kata-kata itu menjadi kutukan buat saya. Bahkan saya belum punya pacar sampai sekarang (maaf, ini bukan promosi diriku yang terselubung, hehehhe). “Pernah jatuh cinta?” Pertanyaan seperti apa itu? Supaya dimaklumi, yang menanyakan pertanyaan tadi adalah Alter-ego ku, yang kadang-kadang bersuara dan pertanyaan kurang ajar dan tak berperasaan seperti itu sudah yang kesekian kali. Tentu saja pernah. Alter-ego ini sangat memandang rendah diriku. Memang saya Zombie?
“Memang! beberapa rekan kerjamu saat di Bintan dulu menyebutmu Zombie.”
Lagi-lagi Alter-ego menimpal sembarangan. Ok, itu benar, Tapi bukan karena soal jatuh cinta atau belum. Itu karena aku jarang tertawa kalau di potret. Swear!
Tadi saya mendapat kabar dari seorang “Old Friend”. Kabar baik, pas saat ibadah di Gereja selesai. Dia mengabarkan lewat telepon kalau dia akan menikah hari sabtu minggu depan, 10 Desember. Sayang saya tidak bisa menghadiri karena saya masih kerja dan baru bisa pulang cuti minggu depannya lagi. Tapi biarlah, tidak mengapa.
“ Iya kalau kamu hadir kamu pasti stress dan bisa bunuh diri karena semakin banyak teman yang meninggalkanmu sendiri.”
Alter-ego kurang ajar!
Saya sangat menghargai teman-teman ataupun siapa saja yang memutuskan untuk menikah. Itu keputusan paling berat buat saya karena menurut saya menikah berarti merelakan orang lain masuk ke dalam hidup pribadi kita dan rela semuanya tidak berjalan dengan kehendak kita sendiri. Harus selalu memikirkan bagaimana pendapat dan perasaan pasangan kita, bahkan sebelum kita berbuat sesuatu. Jadi salut buat teman-teman yang sudah menikah.
“You just a coward...”
kubekap mulut Alter-ego sebelum dia mematahkan semua argumen yang saya punya. hehhehe
Sisi buruknya menjadi bujang adalah semakin sedikit teman yang bisa hang-out bareng. Kalau malam minggu, saya harus rela tersisihkan. Dulu ada teman yang mengajak saya meramaikan malam minggu mereka, mungkin kasihan karena saya sendirian. Tapi itu juga menyiksa. Memang enak lihat orang pacaran.
“Rasain!”
Alter-ego berteriak dengan kencang dari lubuk hati. Dia memang tidak bisa diam dan senang kalau saya lagi susah. Untungnya, saya masih punya beberapa sahabat yang belum menikah.
Di kantor saya sering ‘diserang’ Boss saya. Tiap ada kesempatan dia pasti bertanya “Richard, kapan kawin?” Saya cuma bisa tertawa kecut.
“Tanya saja sama Boss, ada anak perempuannya, tidak?”
Alter-ego menyela. Dia memang tidak bisa diam dan sok tahu. Dia pikir gampang apa?
Membujang sebenarnya ada untungnya. You can spend your money only for you or you can save your money in bank, in my case; i spent it in Mall. Menyimpan uang hanya untuk ‘pulang kampung’ saat Natal dan kembali ‘broke’ di awal tahun. Keuntungan yang lain adalah No woman means no cry, itu kata kakek BOB. Tidak stres, tidak pusing dan tidak perlu buang waktu buat orang lain.
“yeah, no woman to cry for, only cry for yourself since you were alone and phatetic.”
Alter-ego membisik lirih. Saya memilih pura-pura tidak mendengarnya.
Akhir kata, semoga bahagia bagi yang akan menikah dan semoga bahagia selalu bagi yang sudah menikah.
“Kau pikir menikah jalan-jalan? Bahagia Selalu? Itu cuma di Dongeng, tahu?”
Alter-ego menyela dengan lantang. Maafkan dia, dia memang tidak berperasaan. Well, yang penting aku sudah mendoakan yang terbaik bagi kalian teman dan sahabatku.
“Lebih baik berdoa bagi dirimu sendiri supaya cepat dapat jodoh!”.
“Alter, bisa diam tidak?” kali ini aku yang berteriak.
Alhamdulilaaaaaah....someone who has known ' alter ego' didn't talk about 'US'...#you know who....hahahahahaha
BalasHapusI shut his mouth. Believe me, he really dying to mention you... hehhehe
BalasHapus