Di jejaring sosial, teman saya menulis, yang kira-kira dalam bahasa sehari-hari artinya begini , "Jika apa yang saya inginkan belum tercapai itu artinya saya masih ada tempat kosong untuk sesuatu yang lebih baik yang akan datang nanti.". Di tulisan saya terdahulu, saya menceritakan tentang Saya yang terlalu banyak maunya hingga malah membuat pikiran saya jadi semrawut, kacau dan stress. Nah, 'kicauan' teman saya yang diatas itu secara tidak sengaja telah membuat Saya lebih tenang. Saya merespon 'kicauan'-nya dengan menulis seperti ini, "Betul. mungkin belum saatnya dan ada orang yang lebih membutuhkan, walaupun sebenarnya Saya juga 'ngarep banget'". Mengiyakan tapi sebetulnya masih tidak rela dilubuk hati terdalam. Hehehehe.
Jadi ceritanya begini, bulan lalu, tepat sebulan yang lalu saya membaca lowongan pekerjaan di sebuah situs yang Saya pikir pekerjaan tersebut sangat tepat buat Saya, walaupun sebenarnya itu hanya sebagai alasan untuk pelarian. Saya langsung mengirim semua dokumen dan yakin akan dipanggil wawancara. Disela-sela menunggu kabar lewat telepon, Saya malah sudah membuat skenario bagaimana Saya akan hidup di tempat baru, karena begitu yakinnya. Dua minggu berlalu dan Saya mulai berpikir sebaliknya. Saya gagal. Mungkin karena ini atau karena itu. Buntut-buntutnya saya stress. Akhirnya saya coba berdamai dengan keinginan sendiri. Merelakannya, bahkan ketika kesempatan itu belum mati sama sekali. Sekarang Saya bisa lebih menerima kenyataan, bahwa Saya tidak memenuhi kualifikasi bahkan untuk sekadar dipanggil wawancara. Nasib.
Awalnya ketika melihat iklan lowongan tersebut, Saya berpikir bahwa inilah kesempatan Saya. Tapi saat ini Saya sadar, Saya masih punya pekerjaan. Lowongan itu lebih tepat menjadi kesempatan buat mereka yang belum punya pekerjaan. Tuhan tahu Saya tidak benar-benar membutuhkannya. Ada orang lain yang mungkin sudah stress karena belum mendapat pekerjaan sementara banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi sementara keuangan semakin menipis. Jadi Saya pikir hasil ini sudah cukup adil.
Kenapa ketika menemukan sesuatu atau kesempatan yang saya inginkan, Saya berpikir bahwa itu bakal menjadi milik Saya? Serakah? Entahlah. Tapi sepertinya manusiawi jika selalu menilai secara subjektif, dimana Saya yang menjadi subjeknya yang diuntungkan. Hahahaha. Kesempatan memang tidak selalu ada dan harus dimanfaatkan. Tapi sesungguhnya Saya telah menemukan kesempatan Saya dan sekarang kesempatan itu untuk orang lain. Meski menyakitkan, Saya pikir Saya telah menemukan jalan untuk menerima kenyataan dan menyerah untuk menyangkal dengan pembenaran dan pembelaan yang subjektif. Pembelajaran baik di akhir yang buruk. At least, I have tried. I did disappoint because i failed. But I have learned another lesson for my Live and that reliefing. (N.B : masih sedikit tidak rela sebenarnya. hahaha.)
Komentar
Posting Komentar