MONOLOGUE #1
"Tahu tidak, Saya telah memikirkan apa artinya keberadaan Saya didunia ini sejak Saya kira-kira masih 6 tahun..."
"Hah? Yang benar saja, anak umur begitu bukannya yang dipikirkan cuma bermain?"
"Ini serius. Tapi memang bukan seberat seperti pikiran para ahli filsafat atau cendekiawan,..."
"maksudnya?"
"Maksudku, saat itu, pikiran itu hanya pertanyaan seperti, kenapa Saya ada? jika tubuh ini mati, jiwa saya ikut mati? tapi Saya tidak mau mati! Pertanyaan sederhana yang sering membuat saya menangis sendiri. Bingung karena tidak mendapatkan jawaban dan sekaligus sedih karena takut tidak bisa bertemu lagi dengan orang tua, terlebih Mama, dan teman-teman."
"Kalau sekarang?"
"Kalau sekarang Saya sibuk memikirkan tentang Pekerjaan, memikirkan jodoh, memikirkan kenapa uang Saya tidak pernah bisa banyak atau memikirkan masalah yang ada dan kenapa tidak pernah tidak ada masalah"
"Memang tidak pernah lagi bertanya-tanya kenapa kamu ada didunia?"
"Kadang-kadang. Tapi lebih disibukkan dengan pikiran tentang bagaimana menjalani dan melewati hidup sehari-hari..."
"kedengarannya sangat pribadi alias egois. Tidak pernah memikirkan orang lain?"
"Pernah. Tapi itu dulu."
"Apa yang terjadi?"
"Kecewa. Memikirkan orang lain hingga diri sendiri kadang dikesampingkan. Tapi anehnya mereka berpikir bahwa saya terlalu memikirkan diri sendiri. Lalu semuanya berhenti. Saya jadi benar-benar hanya memikirkan dan mengurus diri sendiri."
"Bukannya lebih baik jika melakukan sesuatu tanpa memikirkan timbal balik alias tulus, tanpa peduli apa yang dipikirkan orang lain?"
"Teorinya seperti itu. Susah untuk dilakukan. Saya tahu saya ada didunia untuk orang lain. membuat diri Saya menjadi berkat bagi orang lain. Menjadi garam dunia, menjadi terang dunia dan segala istilah lain yang terdengar begitu mulia. Tapi Saya tidak sanggup."
"Kamu butuh pengakuan?"
"Tidak butuh pengakuan atau pujian. Saya cuma butuh dimengerti. Mengerti bahwa Saya melakukan itu atau ini untuk kebaikan mereka."
"Tapi kebaikan yang kamu maksud mungkin tidak berarti sama seperti yang mereka nilai..."
"Karena itulah Saya berhenti. Saya sekarang berhenti berusaha melakukan sesuatu karena orang lain. Saya melakukan sesuatu untuk diri sendiri dan berusaha tidak menyusahkan orang lain. Jika ada yang minta bantuan, saya akan tolong. Tapi nyaris tidak pernah mengajukan diri untuk menolong jika tidak mengenal orang tersebut."
"Kenapa? Bukannya menolong itu harus kepada siapa saja?"
"Memang kita hidup dizaman apa? Sekarang niat baik bisa saja dikira bermaksud lain. Ada udang dibalik batu. Kamu pikir ada lagi manusia zaman sekarang yang percaya ada manusia baik-baik?"
"Jadi kamu bukan manusia baik?"
"Saya baik kepada yang saya kenal,..."
"Lebih gampang tidak peduli daripada peduli, itu maksudmu?"
"Iya. Dalam kasus Saya, pura-pura tidak peduli. Lebih gampang sepertinya... Entahlah. Tunggu, sepertinya kita telah keluar dari tema pertama,..."
"Oh ya?"
"Kamu yang melencengkan percakapan dengan pertanyaan-petanyaan tadi yang tidak nyambung..."
"Menurut kamu begitu. Tapi Saya kan, cuma alter yang lebih sering disebut kata hati. semua yang ditanyakan itu, adalah pertanyaan kamu sendiri..."
"Tapi setidaknya kamu tidak membuatnya jadi jauh seperti ini"
"Sesukamulah. Memang kamu orang yang sulit dimengerti"
Kalau kata hatiku sulit mengerti diriku sendiri, lalu apa masih ada harapan orang lain akan mengerti Saya? Entahlah. So much thought in mind. So much problem to think of. BUT ABOVE ALL, I NEED TO LIVE.
Komentar
Posting Komentar