Siapa yang harus disalahkan ketika apa yang diimpikan tidak sejalan dengan kenyataan? Orangtua? Guru? Teman? Tuhan? Dulu saat masih sekolah saya sering mendengar kalimat ini, yang bahkan sampai sekarang masih sering diucapkan, "Gantunglah cita-citamu setinggi langit". Kalimat ini terdengar begitu indah. Bahkan ketika menutup mata, bisa terbayang burung-burung terbang di angkasa, bunga-bunga bermekaran dan lagu-lagu dari film Sound Of Music menggaung di telinga. Saya pikir itu adalah tidak lebih dari pembodohan dan pengalihan dari kenyataan.
Saya pernah menuliskan cerita tentang cita-cita saya di tulisan terdahulu. Tidak ingat? Belum baca? Baiklah, saya ceritakan lagi. Cita-cita saya ketika masih kecil adalah menjadi PNS. Silahkan tertawa hingga keluar airmata jika mau. ketika saya memikirkannya lagi, saya sepertinya sudah mengetahui dan sadar dari dulu, bahwa dengan keadaan keluarga yang hanya cukup-cukupan, tidaklah mungkin bagi diriku untuk menjadi dokter, menjadi polisi atau bahkan Astronot. Terlalu muluk-muluk. Sebenarnya tidak apa walapun muluk-muluk. Namanya juga anak-anak. Tapi entah kenapa saya merasa tidak pernah mempunyai cita-cita. A dream is too much fancy for me.
Saya telah membiasakan diri untuk menyadari kenyataan sejak kecil. Tidak terlalu memaksakan sesuatu yang sepertinya tidak mungkin untuk didapatkan. Cukup mengagumi apa yang dimiliki teman dan cuma bisa mengkhayalkan, betapa menyenangkan memiliki barang juga yang sama. Merasa beruntung jika teman itu memperbolehkan ikut bermain atau sekedar menyentuhnya. Menyakitkan jika dipikir-pikir sekarang ini. Tapi yang lebih menyakitkan sebenarnya adalah kecewa.
Hingga saya dewasa,Saya tidak ingin terlalu memaksakan upaya dan harapan saya atas sesuatu karena lebih menjaga hati agar tidak kecewa. Pekerjaan, keinginan dan bahkan dalam suatu hubungan. Kecewa telah membuatku tertahan dan terkekang. Bagi saya, mengejar apa yang saya inginkan bukanlah hal yang utama. Saya hanya ingin yang pasti-pasti saja. Berusaha terlalu keras untuk sesuatu yang melebihi perkiraanku adalah tidak mungkin. Itulah kenapa ketika ada teman yang berusaha menjadi penyanyi, saya dengan entengnya mengatakan hal itu tidak mungkin, karena kenyataan ini dan kenyataan itu. Yang terbayang bagiku pertama kali adalah hal tersebut terlalu muluk-muluk dan hanya akan mendatangkan kekecewaan. Apalagi dengan suara yang saya pikir tidak terlalu menjual. Begitu juga ketika ada teman yang melanjutkan pendidikan dengan cita-cita bisa menjadi Menteri atau Dirjen. Saya dengan sinis mencoba mematahkan semangatnya. lagi-lagi mengatakan hal itu tidak mungkin. Dream, Believe and Make It Happen, just happen to Agnes Monica dan pada beberapa orang yang beruntung lainnya. Saya tidak merasa hal yang sama akan terjadi pada orang-orang di sekitar saya.
Kenapa? Ini adalah satu hal baru yang baru saja saya sadari dan menyakitkan. Saya cemburu. Saya iri. Kenapa orang lain bisa mengejar apa yang mereka mau sedangkan saya begitu penakutnya, sehingga bermimpi saja saya tidak berani. Kenapa saya begitu terkekang? Kenapa saya tidak bisa sebebas mereka menentukan apa yang akan saya lakukan? Apa yang saya mau? Saya selalu berdalih bahwa apa yang saya capai saat ini karena saya lebih ingin bertanggung jawab pada diri sendiri dan mungkin menjadi lebih dewasa dan Orang dewasa tidak mengejar cita-cita. Saya selalu meyakinkan diri sendiri bahwa inilah jalanku. I am so PATHETIC.
Sesungguhnya saya ingin setiap saat bisa menyemangati teman yang ingin mengejar impiannya. Tapi entah kenapa yang selalu terucap adalah kalimat yang terdengar bijaksana tapi sebenarnya mematikan semangat mereka. Saya memang pesimistis. I am a dark person. I am really sorry. Lewat tulisan ini saya mewakili bagian dari diri saya yang lain, mendoakan mereka terutama teman-teman saya, untuk terus mencoba apa yang kalian yakin bisa capai. Tidak menyerah dan banyak berusaha dan berdoa. Dan jika saya kebetulan mengucapkan kata-kata yang berlawan dengan keinginan kalian, yakinlah bahwa saya hanya cemburu tapi tidak bermaksud jahat. Terdengar aneh memang. But, that is Me.
Komentar
Posting Komentar