Tulisan ini terinspirasi lagi oleh beberapa teman yang akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Sejujurnya sudah banyak teman yang menikah beberapa tahun belakangan, tapi entah kenapa tulisan versi lebih serius dari yang sebelumnya ini, baru muncul sekarang. Mungkin dulu Saya lebih sibuk memikirkan giliran saya kapan sekaligus menghindari orang-orang yang begitu isengnya menanyakan kapan saya akan menikah. Entahlah.
Setiap orang mempunyai ide sendiri tentang apa yang disebut "langkah terbesar" mereka dalam hidup. Bisa saja hal itu menikah, mendapat pekerjaan, lulus dari perguruan tinggi atau berhenti dari pekerjaan demi impian diri sendiri. Kalau menurut saya, 'langkah terbesar' itu adalah saat dimana saya membuat keputusan yang bisa merubah kehidupan saya, dalam arti menjadi lebih dewasa dan dimana saya menjadi lebih serius menangani hidup saya. Untuk saat ini, setiap hal sejak saya memutuskan untuk bisa mandiri dan lepas dari orang tua adalah 'my biggest step', baik itu hal yang mengenakkan atau hal yang membuat kapok.
Biggest Step yang lebih bermakna bagi saya hingga saat ini adalah dimana saya sadar bahwa keputusan yang saya buat telah membuat saya susah sendiri. Mungkin ketika saya nantinya menemukan "the soul mate" dan memutuskan untuk menikah dan berkeluarga, itu akan jadi "my next biggest step". Saya kira MENIKAH adalah langkah terbesar untuk semua orang, pria maupun wanita. Kenapa? Karena bagi saya, menikah berarti meninggalkan semua hal yang kekanak-kanakan, egoisme dan harus lebih bertanggung jawab, karena akan mengurus anak orang lain dan nantinya anak sendiri. Menikah adalah hal paling serius, lebih serius dari pekerjaan saya sekarang. Banyak pengorbanan yang berbau "keinginan sendiri" ketika sudah menikah. Jadi alasan sampai sekarang saya belum punya "serious relationship" adalah karena itu. Saya tidak ingin menikah hanya karena alasan umur, pacaran sudah lama, dipaksa orang tua atau karena terdesak semua teman sudah kawin sedangkan saya belum. Saya akan menikah ketika saya sudah siap. Mental dan Material.
Dengan semua alasan diatas, saya salut bagi mereka yang tidak terlalu berpikir rumit seperti saya. Bukan maksud saya bahwa mereka menikah tanpa berpikir banyak tapi lebih menghargai keberanian mereka mengambil keputusan tersebut. Saya terbiasa memikirkan semua akibat dan memprediksikan apa yang akan terjadi sebelum saya melakukan sesuatu. Jadi kadang-kadang saya menjadi takut bahkan sebelum mengambil langkah apapun. Nah, menikah itu hanyalah langkah awal, karena setelah menikah berarti akan mempunyai anak. Apa nantinya yang terjadi pada anak adalah cermin kesuksesan sebagai orang tua. Dan sudah saya katakan pada tulisan sebelumnya, bahwa mendidik anak bukanlah perkara enteng. Semua orang bisa menjadi orang tua namun menjadi orang tua yang baik, tidak semua orang tua bisa. Tidak percaya? coba hitung berapa banyak pernikahan gagal atau anak bermasalah saat ini. Lihat kan? saya ini memang suka membayangkan yang tidak-tidak meski yang saya katakan ada benarnya. Kadang-kadang saya ingin menjadi orang yang lebih 'spontaneous'. Just take the step and think about what happen later, later. But I can't.
"Jadi kapan kamu akan menikah?"
OMG, itu suara Alter yang menyebalkan. Harus segera menghindar, kalau tidak semua pertahanan logika saya akan dilucutinya. Dia seperti seorang psikiater. Pura-pura saja tidak mendengarnya.
Komentar
Posting Komentar